Laman

Selasa, 09 Juni 2020

Ini 2 Faktor Penting dalam Membangun Team Work

"team work"||social.chivalikgroup.com
"Alone we can do so little, together we can do so much,"  
demikian kata Hellen Adams Keller seorang penulis, aktivis politik sekaligus akademisi berkebangsaan Amerika. Quotes terkenal Keller tersebut kira-kira dapat ditransfer ke Bahasa Indonesia sebagai, "Sendiri kita bisa berbuat begitu sedikit, bersama-sama kita bisa melakukan begitu banyak."

Ungkapan tersebut mau menyampaikan pesan bahwa demikian pentingnya kebersamaan atau kerja bersama dibandingkan dengan kerja sendiri. Bagaimanapun organisasi atau institusi baik negeri ataupun swasta, sekalipun punya banyak struktur dan pekerja, tetaplah punya tujuan bersama.

Namun, tak jarang ditemui struktur dan kuantitas SDM yang cukup banyak, tidak efektif, sehingga tujuan bersama tidak terwujud. Kuantitas personalia tidak mampu berbuat banyak sebagaimana ungkapan Keller di atas.

Apa penyebabnya?

Penyebabnya adalah karena personalia yang jumlahnya banyak - karena tujuan organisasi harus dikerjakan oleh banyak orang - namun personalia yang banyak itu tidak mampu bekerja sebagai sebuah tim. Yah, sebuah tim kerja, atau bahasa kerennya team work.

Lalu bagaimana membangun sebuah team work yang efektif? Hal-hal apa saja yang berpengaruh?

Dalam pengalaman saya pribadi, team work yang hebat dipengaruhi oleh 2 hal yaitu:

1. Pemimpin Tim
Team work butuh pemimpin, tanpa pemimpin maka setiap anggota tim yang nota bene merupakan orang-orang dengan kapasitas sebagai pemimpin bagi diri sendiri, akan melakukan apa saja yang mau dia lakukan.
 
Mengambil analogi dari olahraga sepak bola, maka yang terjadi tanpa kapten kesebelasan yang memimpin adalah semuanya mau mencetak gol, termasuk penjaga gawang. Tidak ada operan-operan bola ke striker, yang ada adalah aksi penguasaan bola untuk target pribadi.
 
Tugas seorang pemimpin tim untuk mekonstruksi dan mengkomunikasikan visi, kebijakan dan strategi yang hendak dicapai, mengkoordinir usaha pencapaian tujuan hingga memastikan masing-masing unit melaksanakan tanggung jawab secara bersama-sama. Tupoksi boleh berbeda, namun semangat juang dan visi yang hendak dituju haruslah sama.
 
Pemimpin juga akan berfungsi menjadi problem solver atau memfasilitasi proses penemuan akan cara penyelesaian masalah secara bersama-sama, termasuk mengelolah konflik antar anggota.
 
2. Anggota tim
Anggota tim, seyogyanya menyadari posisinya dan tidak boleh menang sendiri. Ego harus dikendalikan.
 
Selain itu, anggota tim harus mampu membangun komunikasi yang konstruktif dengan sesama anggota dan pimpinan.  Komunikasi konstruktif harus dalam konteks saling memahami karakter dan kemampuan masing-masing anggota tim.
 
Anggota tim yang lebih dari 1 (satu) orang, jelas memiliki latar belakang serta kemampuan yang berbeda-beda. Namun sebagai bagian dari satu team, perbedaan-perbedaan tersebut perlu dikelolah secara konstruktif dengan mengembangkan kesadaran kerjasama tim, dibarengi saling memahami dan pelepasan egoisme di antara sesama anggota.
 
Jika komunikasi dan manajemen perbedaan tidak terjadi, maka siap-siaplah menyaksikan konflik yang tak terkendali dan akan menghancurkan eksistensi team work.


So, benahi kepemimpinan dan bangunlah kesadaran bersama sebagai sebuah tim dengan target bersama, mencetak goal tujuan organisasi.

Tidak ada tempat untuk egosentrisme dan one person show dalam sebuah tim. Yang ada hanyalah komunikasi dan kerjasama mencapai tujuan bersama.

Selamat membentuk tim kerja yang kuat.


Rabu, 27 Mei 2020

Seni Berpikir Kritis


| ilustrasi || ecampusnews.com | 

Kritis mengandung arti:

-      Jeli melihat suatu perkembangan / situasi.

-      Selalu bertanya-tanya (Mengapa?)

-      Punya patokan nilai yang benar / yang diperjuangkan

-      Tidak dengan mudah menerima suatu  konsep/keputusan/pernyataan.

Menurut Halpen (1996), berpikir kritis adalah memberdayakan keterampilan atau strategi kognitif dalam menentukan tujuan. Proses tersebut dilalui setelah menentukan tujuan, mempertimbangkan, dan mengacu langsung kepada sasaran-merupakan bentuk berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka memecahkan masalah, merumuskan kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan, dan membuat keputusan ketika menggunakan semua keterampilan tersebut secara efektif dalam konteks dan tipe yang tepat. 

Berpikir kritis juga merupakan kegiatan mengevaluasi-mempertimbangkan kesimpulan yang akan diambil manakala menentukan beberapa faktor pendukung untuk membuat keputusan. Berpikir kritis juga biasa disebut directed thinking, sebab berpikir langsung kepada fokus yang akan dituju.

Pendapat senada dikemukakan Anggelo (1995), berpikir kritis adalah mengaplikasikan rasional, kegiatan berpikir yang tinggi, yang meliputi kegiatan menganalisis, mensintesis, mengenal permasalahan dan pemecahannya, menyimpulkan, dan mengevaluasi.

Dari dua pendapat tersebut, tampak adanya persamaan dalam hal sistematika berpikir yang ternyata berproses. Berpikir kritis harus melalui beberapa tahapan untuk sampai kepada sebuah kesimpulan atau penilaian. Penekanan kepada proses dan tahapan berpikir dilontarkan pula oleh Scriven, berpikir kritis yaitu proses intelektual yang aktif dan penuh dengan keterampilan dalam membuat pengertian atau konsep, mengaplikasikan, menganalisis, membuat sistesis, dan mengevaluasi. 

Semua kegiatan tersebut berdasarkan hasil observasi, pengalaman, pemikiran, pertimbangan, dan komunikasi, yang akan membimbing dalam menentukan sikap dan tindakan (Walker, 2001). Pernyataan tersebut ditegaskan kembali oleh Angelo (1995), bahwa berpikir kritis harus memenuhi karakteristik kegiatan berpikir yang meliputi : analisis, sintesis, pengenalan masalah dan pemecahannya, kesimpulan, dan penilaian. Berpikir yang ditampilkan dalam berpikir kritis sangat tertib dan sistematis.

Berpikir Kreatif versus Berpikir Analitis

| ilustrasi: "creative thinking || udemy.com | 
Definisi Kreativitas

Kreativitas adalah:

“Kemampuan untuk mencipta atau daya cipta”  
"perihal berkreasi atau kekreatifan"
(Kamus Besar Bah. Indonesia)

"Suatu hal yang halus dan ilusif, ia adalah suatu imajinasi, visi, kecerdikan dan inspirasi. Apapun definisinya, kreatifitas adalah hasil pemikiran dengan menggunakan konteks-konteks aneh dalam memandang gagasan-gagasan dan masalah-masalah yang telah ada dan telah dikenal” 
(Dorothy Schaeffer)

“Hasil gagsan yang mendatangkan suatu perbaikan efisiensi dan efektifitas suatu sistem” (Matherly dan Goldsmith)

“Kemampuan yang menakjubkan untuk memahami dua kenyataan yang saling berbeda tanpa keluar dari bidang pengalaman kita, dan menemukan cahaya terang dengan membanding-bandingkannya”
(Rawlinson)


Dapat disimpulkan bahwa kreatifitas adalah hasil pemikiran dan kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya:
1). BARU, YANG BELUM ADA SEBELUMNYA, SEGAR, MENARIK, ANEH DAN MENGEJUTKAN.
2). BERMANFAAT, LEBIH PRAKTIS, LEBIH ENAK, LEBIH MUDAH, LEBIH LANCAR, SERTA LEBIH BANYAK DAN LEBIH BERKUALITAS.

Berpikir Analitis

Berpikir secara analitis berarti mencari dan menemukan jawaban yang tidak dapat dibantah dengan deduksi yang logis atau berdasarkan fakta yang telah diketahui sebelumnya.

Berpikir analitis disebut juga berpikir konvergen dan vertikal, karena hanya menuju kepada satu jawaban (converge) . Vertikal karena  cara berpikirnya sempit dan mengarah lurus ke satu jawaban tertentu. Berpikir kreatif adalah berpikir divergen dan lateral. Karena pikiran didorong menyebar jauh dan luas (diverge) serta melebar ke samping (lateral) dalam mencari ide untuk memecahkan masalah. Berikut perbedaan secara skematis:


BERPIKIR ANALITIS
BERPIKIR KREATIF
LOGIS
IMAJINATIF
DAPAT DIRAMALKAN
TIDAK DAPAT DIRAMALKAN
KONVERGEN-VERTIKAL
DIVERGEN-LATERAL
JAWABAN TUNGGAL
JAWABAN BANYAK







Dalam praktek dua-duanya diperlukan. Jadi bukan saling menghilangkan. Tergantung masalah yang dihadapi. Ada masalah yang harus dirunut detil dengan gaya berpikir analitis. Ada juga masalah yang harus dihadapi dengan memikirkan sebanyak mungkin alternatif lewat proses berpikir kreatif. 

Berpikir analitis dan berpikir kreatif, seringkali kita butuhkan secara bersamaan dalam proses pengambilan keputusan. Melahirkan ide-ide baru dan memutuskan ide yang dianggap paling baik dan tepat.

Ciri-ciri Orang Kreatif

Menurut Garry K. Himes:
  1. Sensitif terhadap lingkungan
  2. Fleksibel, terbuka, ingin tahu, dan seleksi
  3. Penilaian bebas
  4. Toleransi terhadap kesamaran
  5. Fleksibilitas mental
David Campbell, mengemukakan 7 ciri manajer kreatif:
  1.  Mau menanggung resiko
  2. Tenang dengan ide yang setengah masak
  3. Mau memperlonggar kebijakan organisasi
  4. Mempu membuat keputusan yang tepat dan cepat
  5. Pendengar yang baik
  6. Tidak terpaku pada kesalahan
  7. Menyukai pekerjaan
Pengembangan Kreativitas

 Berikut beberapa pedoman praktis untuk mengembangkan kreativitas.
  1. Telusuri ide-ide anda setiap waktu
  2. Ajukan pertanyaan-pertanyaan baru bagi diri anda setiap hari
  3. Pelajarilah hal-hal di luar bidang keahlian anda
  4. Hindari pola-pola yang kaku dalam mengerjakan sesuatu.
  5. Tentukan masalah yang akan dipecahkan, bukan hanya gejalanya.
  6. Bersikaplah terbuka dan mau menerima ide-ide baru.
  7. Bersikaplah jeli dalam mengobservasi
  8. Pilih waktu yang tepat untuk berpikir
  9. Tetapkan sasaran dan batas waktu
  10. Kerjakan hal-hal yang sulit dengan tekun walaupun perlu waktu lama.
  11. Gunakan firasat/intuisi anda
  12. gunakan kegagalan anda maupun orang lain sebagai pelajaran berharga untuk memacu munculnya ide-ide baru.
  13. jadilah pembaca yang baik
  14. Bersikaplah positif, karena sikap posiitif mendoorong kreatifitas dan memberi kebebasan berpikir.

Sharron Nelton mengemukakan 8 cara mengembangkan kreatfitas:
  1. Teruslah melakukan komunikasi secara aktif
  2. Menggunakanorang-orang yanglatar belakngnya beraneka ragam dalam melaksanakan pekerjaan dan memecahkan masalah.
  3. Mengurangi rasa tahut akan kegagalan.
  4. Berpikir terbuka, dan bersedia menerima gagasan yang mungikin kelihatan kurang baik / kurang bermutu
  5. Gunakan lelucon, karena lelucon penting untuk proses kreatifitas.
  6. Buat anggaran yang cukup untuk melakukan inovasi
  7. Tanamkan sikap positif
  8. Perbolehkan / izinkan keanekaragaman daam gaya pribadi
Demikian semoga bermanfaat

(***)

Ikuti konten lainnya tentang "Berpikir"

Pemimpin yang Berpikir Sistematis

Ilustrasi || sumber: blogspot.com | 



Berpikir sistematis dapat dikatakan sebagai sebuah cara berpikir  yang teratur dalam metodenya. Dengan demikian berpikir sistematis berarti juga berpikir dengan melalui tahap-tahap yang teratur. Atau juga dapat disebut berpikir dengan sistem yang teratur. 
Atau berpikir dengan menganggap suatu objek sebagai sistem.



Sistematis menurut Kamus besar bahasa Indonesia adalah teratur menurut sistem; dengan cara yang diatur baik-baik. “Sistem” adalah 
1). Perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas; 
2). Susunan yang teratur dari pandangan-pandangan , teori, asas dan sebagainya 
3). Metode 

Bagian-bagian penting dalam berpikir sistematis  beserta substansinya menurut Panggabean (2009) adalah sebagai berikut:

Konsep Dasar Berpikir



Ilustrasi "Berpikir" || sumber: thedigitaltransformationpeople.com

Pangkal berpikir adalah meragukan. Awal berpikir adalah bertanya. 
Hasrat berpikir adalah belajar.

(Goenawan Mohamad)



Berpikir bukan dosa. Berpikir adalah perintah. Berpikir adalah keharusan. Kemampuan untuk berpikir merupakan satu ciri sangat penting dari manusia yang membedakannya dari makhluk ciptaan lainnya. Kemampuan berpikir memampukan manusia untuk terus maju dan berkembang menjadi seperti saat ini. Dengan berpikir, manusia mampu mengemban amanat peradaban dari Tuhan sejak penciptaan manusia pertama untuk menguasai dan menaklukkan bumi dengan mengenali dan mengatasi persoalan-persoalan yang dia hadapi.  Dalam proses belajar, tentu saja belajar tak bisa lepas dari berpikir. Sedemikian tak terpisahnya proses berpikir dengan kehidupan manusia, maka tak heran ada ungkapan: You are What You Think  (anda adalah apa yang anda pikirkan).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu atau menimbang-nimbang dalam ingatan. 
Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam diri seseorang yang berupa pengertian-pengertian. “Berpikir” mencakup banyak aktivitas mental. Kita berpikir saat memutuskan barang apa yang akan kita beli di toko. Kita berpikir saat melamun sambil menunggu kuliah dimulai. Kita berpikir saat mencoba memecahkan ujian yang diberikan di kelas. Kita berpikir saat menulis artikel, menulis makalah, menulis surat, membaca buku, membaca koran, merencanakan liburan, atau mengkhawatirkan suatu persahabatan yang terganggu.

Senin, 25 Mei 2020

KONFLIK (2) Bagaimana Menanganinya?

| "manajemen konflik" || dentistrytoday.com | 

Jika tak dapat dihindari? Bagaimana mengelolah konflik? 
Konflik dapat dicegah atau dikelola dengan:
  • Disiplin: Mempertahankan disiplin dapat digunakan  untuk mengelola dan mencegah konflik.  Manajer harus mengetahui dan memahami peraturan-peraturan yang ada dalam organisasi. Jika belum jelas, mereka harus mencari bantuan untuk memahaminya. 
  • Pertimbangan Pengalaman dalam Tahapan Kehidupan: Konflik dapat dikelola dengan mendukung staf untuk mencapai tujuan sesuai dengan pengalaman dan tahapan hidupnya.  Misalnya; staf junior yang berprestasi  dapat  dipromosikan untuk mengikuti pendidikan kejenjang  yang lebih tinggi, sedangkan bagi staf senior yang berprestasi dapat dipromosikan  untuk menduduki  jabatan yang lebih tinggi.
  • Komunikasi: Suatu Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapetik dan kondusif. Suatu upaya yang dapat dilakukan manajer untuk  menghindari konflik adalah dengan menerapkan  komunikasi yang efektif dalam kegitan sehari-hari  yang akhirnya dapat dijadikan sebagai  satu cara hidup. 
  • Mendengarkan secara aktif: Mendengarkan secara aktif merupakan hal penting untuk mengelola konflik. Untuk memastikan bahwa penerimaan para manajer telah memiliki pemahaman yang benar, mereka dapat merumuskan kembali permasalahan para  pegawai sebagai tanda bahwa mereka telah mendengarkan. 

KONFLIK (1) Teori, Penyebab dan Bentuknya

| "conflict"|| hndinsider.com |
"KONFLIK, sering dianggap sebagai suatu hal yang harus dihindari. Padahal, dalam kenyataannya konflik justru merupakan suatu fakta yang tak bisa terhindarkan." 
Dalam organisasi tertentu, konflik justru sering dianggap haram,  karena itu harus dihindari bahkan dimusuhi. Padahal, jika kita berkenalan dengan bentuk-bentuk dan tingkatan dari konflik, kita akan mendapati bahwa konflik adalah suatu fakta manusiawi, fakta interaksi sosial dan dengan demikian merupakan fakta berorganisasi.

Sebagai fakta bermanusia, bersosial dan bergereja, konflik memang sering tak terhindarkan dan tak bisa dihindari. Sekalipun demikian, bukan berarti konflik kemudian akan kita biarkan. Konflik ibarat pedang bermata dua, di satu sisi dampaknya bisa positif dan di sisi lain bisa negatif. Tergantung bagaimana kita mengelolahnya, mengendalikannya, menyelesaikannya. Dengan demikian, untuk bisa mengelolahnya, kita perlu ‘bergaul’ dengan konflik, mengenalnya, memahaminya, menyikapinya, mengelolahnya hingga akhirnya kita (pribadi, organisasi, gereja) menikmati hasil pergaulan dengan konflik yang - sekali lagi- bisa positif atau negatif.........