Laman

Senin, 25 Mei 2020

KONFLIK (1) Teori, Penyebab dan Bentuknya

| "conflict"|| hndinsider.com |
"KONFLIK, sering dianggap sebagai suatu hal yang harus dihindari. Padahal, dalam kenyataannya konflik justru merupakan suatu fakta yang tak bisa terhindarkan." 
Dalam organisasi tertentu, konflik justru sering dianggap haram,  karena itu harus dihindari bahkan dimusuhi. Padahal, jika kita berkenalan dengan bentuk-bentuk dan tingkatan dari konflik, kita akan mendapati bahwa konflik adalah suatu fakta manusiawi, fakta interaksi sosial dan dengan demikian merupakan fakta berorganisasi.

Sebagai fakta bermanusia, bersosial dan bergereja, konflik memang sering tak terhindarkan dan tak bisa dihindari. Sekalipun demikian, bukan berarti konflik kemudian akan kita biarkan. Konflik ibarat pedang bermata dua, di satu sisi dampaknya bisa positif dan di sisi lain bisa negatif. Tergantung bagaimana kita mengelolahnya, mengendalikannya, menyelesaikannya. Dengan demikian, untuk bisa mengelolahnya, kita perlu ‘bergaul’ dengan konflik, mengenalnya, memahaminya, menyikapinya, mengelolahnya hingga akhirnya kita (pribadi, organisasi, gereja) menikmati hasil pergaulan dengan konflik yang - sekali lagi- bisa positif atau negatif.........




Apa itu Konflik
Kata Konflik berasal dari kata confligere, conflictum, yang berarti saling berbenturan. Arti kata ini menunjuk pada semua benturan, tabrakan, ketidaksesuaian, ketidak serasi- an, pertentangan, perkelahian, operasi dan interaksi yang antagonis (Kartini Kartono, 1991).

Clinton F. Fingk mendefinisikan konflik  sebagai relasi psikologis yang antagonis, interest eksklusif dan tidak bisa dipertemukan, sikap emosional bermusuhan, struktur nilai yang berbeda, interaksi yang antagonis, jelas, berbentuk perlawanan halus, terkontrol, tersembunyi, tidak langsung hingga pada bentuk perlawanan terbuka. 

K.W. Thomas mendefinsikan konflik sebagai suatu proses yang mulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negatif, atau akan segera mempengaruhi secara negatif, sesuatu yang menjadi perhatian pihak pertama.

Mastenbroek melihat konflik sebagai ketentuan yang tak dapat dijalankan, pernyataan ketidakpuasan, proses pengambilan keputusan yang tidak tepat.

Simon Fisher dkk mengemukakan beberapa teori konflik:
a. Teori hubungan masyarakat
Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat.

b. Teori kebutuhan manusia
Menganggap bahwa konflik yang berakar disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia (fisik, mental dan sosial) yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Hal yang sering menjadi inti pembicaraan adalah keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi, dan otonomi.

c. Teori negosiasi prinsip
Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh posisi-posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang mengalami konflik.

d. Teori identitas
Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh identitas yang terancam, yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa lalu yang tidak diselesaikan.

e. Teori kesalahpahaman antarbudaya
Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh ketidakcocokan dalam cara-cara komunikasi di antara berbagai budaya yang berbeda.

f. Teori transformasi konflik
Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah sosial, budaya dan ekonomi

Perspektif terhadap Konflik

- Ciri-ciri Pandangan Lama
a. Konflik itu pada dasarnya jelek, tidak perlu terjadi
b. Konflik terjadi akibat komunikasi yang tidak lancar, tidak adanya kepercayaan serta tidak adanya sifat keterbukaan dari pihak – pihak yang saling berhubungan.
c. Lingkungan
d. Manusia pada dasarnya adalah mahluk yang memiliki sifat – sifat positif, bisa bekerja sama dan dapat dipercaya.

- Ciri-ciri Pandangan Baru
a. Konflik itu baik dan diperlukan.
b. Konflik terjadi karena adanya berbagai aktifitas.
c. Faktor - faktor keturunan dan aspek – aspek sosiologis lainnya yang berpengaruh
d. Mengakui bahwa pada dasarnya manusia tidak buruk.

Mengapa Konflik terjadi
Konflik di dalam organisasi dapat disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

A. Faktor Manusia
1. Ditimbulkan oleh atasan, terutama karena gaya kepemimpinannya.
2. Personil yang mempertahankan peraturan-peraturan secara kaku.
3. Timbul karena ciri-ciri kepriba-dian individual, antara lain sikap egoistis, temperamental, sikap fanatik, dan sikap otoriter.

B. Faktor Organisasi
1. Persaingan dalam menggunakan sumberdaya.
Apabila sumberdaya baik berupa uang, material, atau sarana lainnya terbatas atau dibatasi, maka dapat timbul persaingan dalam penggunaannya. Ini merupakan potensi terjadinya konflik antar unit/departemen dalam suatu organisasi.

2. Perbedaan tujuan antar unit-unit organisasi.
Tiap-tiap unit dalam organisasi mempunyai spesialisasi dalam fungsi, tugas, dan bidangnya. Perbedaan ini sering mengarah pada konflik minat antar unit tersebut. Misalnya, unit penjualan menginginkan harga yang relatif rendah dengan tujuan untuk lebih menarik konsumen, sementara unit produksi menginginkan harga yang tinggi dengan tujuan untuk memajukan perusahaan.

3. Interdependensi tugas.
Konflik terjadi karena adanya saling ketergantungan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Kelompok yang satu tidak dapat bekerja karena menunggu hasil kerja dari kelompok lainnya.

4. Perbedaan nilai dan persepsi.
Suatu kelompok tertentu mempunyai persepsi yang negatif, karena merasa mendapat perlakuan yang tidak “adil”. Para manajer yang relatif muda memiliki presepsi bahwa mereka mendapat tugas-tugas yang cukup berat, rutin dan rumit, sedangkan para manajer senior men¬dapat tugas yang ringan dan sederhana.

5. Kekaburan yurisdiksional.
Konflik terjadi karena batas-batas aturan tidak jelas, yaitu adanya tanggung jawab yang tumpang tindih.

6. Masalah “status”.
Konflik dapat terjadi karena suatu unit/departemen mencoba memperbaiki dan meningkatkan status, sedangkan unit/departemen yang lain menganggap sebagai sesuatu yang mengancam posisinya dalam status hirarki organisasi.

7. Hambatan komunikasi.
Hambatan komunikasi, baik dalam perencanaan, pengawasan, koordinasi bahkan kepemimpinan dapat menimbulkan konflik antar unit/ departemen

Bentuk Konflik

Setiap bentuk konflik dapat muncul dalam 4 tingkatan:
- Intra personal, yakni konflik di dalam diri satu orang
- Inter personal, konflik di antara dua individu
- Intra kelompok, konflik dalam satu kelompok
- Inter kelompok, konflik antara 2 kelompok atau lebih

Di lihat dari sifatnya, secara umum ada 4 bentuk nyata konflik:
1. Konflik sasaran, terjadi jika seseorang atau satu kelompok mempunyai kepentingan atau menginginkan hasil yang berbeda dari yang lain
2. Konflik kognitif, terjadi jika seseorang atau kelompok memiliki ide yang bertentangan dengan yang lain
3. Konflik afektif, jika emosi, perasaan, sikap seseorang atau kelompok bertentangan dengan yang lain
4. Konflik perilaku, jika perilaku seseorang atau kelompok tidak bisa diterima oleh orang atau kelompok yang lain

Tahapan Konflik


Menurut William Hendricks, rentangan gerak dan proses konflik mencakup tiga tahap, yaitu:
  1. Tahap satu, konflik yang biasanya muncul dalam peristiwa sehatri-hari, tidak begitu mengancam dan paling mudah dikelolah
  2. Tahap dua, konflik yang dapat muncul dalam berbagai bentuk tantangan, terkait dengan banyak aspek kebutuhan manusia. Memiliki kecenderungan untuk sulit dikelolah.
  3. Tahap tiga, konflik yang sudah berubah menjadi pertentangan dan sudah sulit dikelolah

Menurut Mulyasa pada umumnya konflik berlangsung dalam lima tahap, yaitu tahap potensial, konflk terasakan, pertenangan, konflik terbuka, dan akibat konflik.

(1) Tahap potensial, yaitu munculnya perbedaan di antara individu, organisasi, dan lingkunan merupakan potensi terjadinya konflik;
(2) Konflik terasakan, yaitu kondisi ketika perbedaan yang muncul dirasakan oleh individu, dan mereka mulai memikirkannya;
(3) Pertentangan, yaitu ketika konflik berkembang menjadi perbedaan pendapat di anatara individu atau kelompok yang saling bertentangan;
(4) Konflik terbuka, yaitu tahapan ketika pertentangan berkembang menjadi permusuhan secara terbuka;
(5) Akibat konflik, yaitu tahapan ketika konflik menimbulkan dampak terhadap kehidupan dan kinerja organisasi. Jika konflik terkelola dengan baik, maka akan menimbulkan keuntungan, seperti tukar pikiran, ide dan menimbulkan kreativitas. Tetapi jika tidak dikelola dengan baik, dan melampaui batas, maka akan menimbulkan kerugian seperti saling permusuhan.

Akibat-akibat Konflik
Konflik dapat berakibat negatif maupun positif tergantung pada cara mengelola konflik tersebut.

Akibat negatif:
  1. • Menghambat komunikasi.
  2. • Mengganggu kohesi (keeratan hubungan).
  3. • Mengganggu kerjasama atau “team work”.
  4. • Mengganggu proses produksi, bahkan dapat menurunkan produksi.
  5. • Menumbuhkan ketidakpuasan terhadap pekerjaan.
  6. • Individu atau personil menga-lami tekanan (stress), mengganggu konsentrasi, menimbulkan kecemasan, mangkir, menarik diri, frustrasi, dan apatisme.
Akibat Positif dari konflik:
  1. • Membuat organisasi tetap hidup dan harmonis.
  2. • Berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan.
  3. • Melakukan adaptasi, sehingga dapat terjadi perubahan dan per-baikan dalam sistem dan prosedur, mekanisme, program, bahkan tujuan organisasi.
  4. • Memunculkan keputusan-keputusan yang bersifat inovatif.
  5. • Memunculkan persepsi yang lebih kritis terhadap perbedaan pendapat.

======
Penulis: Meidy Y. Tinangon
(bersambung)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar