Laman

Rabu, 27 Mei 2020

Pemimpin yang Berpikir Sistematis

Ilustrasi || sumber: blogspot.com | 



Berpikir sistematis dapat dikatakan sebagai sebuah cara berpikir  yang teratur dalam metodenya. Dengan demikian berpikir sistematis berarti juga berpikir dengan melalui tahap-tahap yang teratur. Atau juga dapat disebut berpikir dengan sistem yang teratur. 
Atau berpikir dengan menganggap suatu objek sebagai sistem.



Sistematis menurut Kamus besar bahasa Indonesia adalah teratur menurut sistem; dengan cara yang diatur baik-baik. “Sistem” adalah 
1). Perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas; 
2). Susunan yang teratur dari pandangan-pandangan , teori, asas dan sebagainya 
3). Metode 

Bagian-bagian penting dalam berpikir sistematis  beserta substansinya menurut Panggabean (2009) adalah sebagai berikut:


  1. Mulai dari akhir. Akhir yang dimaksudkan adalah tujuan. Jadi berpikir sistematis harus memulai dari menetapkan tujuan yang hendak dicapai dari proses berpikir itu. Menentukan tujuan sebagai titik akhir harus memperhatikan titik awal (kondisi kekinian saat hendak mulai berpikir).
  2. Memulai proses berpikir. Berpikir sistematis berintikan pada kata pikir dan sistem. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah: fenomena, sistem, analisis, dan sintesis
-       Fenomena adalah segala sesuatu yang dapat dibayangkan oleh manusia atau dengannya manusia dapat berinteraksi melalui inderanya. Jika kita perhatikan baik-baik, sangat sulit menemukan sebuah fenomena yang hanya terdiri dari fenomena itu sendiri sebagai entitas tunggal. Fenomena akan mengantar kita pada sistem
-       Sistem dapat diartikan sebagai sebuah fenomena yang memiliki dua ciri dasar, yaitu (1) terdiri dari elemen-elemen yang membentuknya atau menentukan karakteristiknya dimana setiap atau sekelompok elemen memiliki fungsi masing-masing yang mengkonstruksi fungsi-fungsi seluruh sistem, dan (2) pola keterkaitan atau interaksi antarelemen yang membentuk hubungan sebab-akibat dan/atau transfer massa-informasi. Kerap kali elemen dari sebuah sistem sejatinya merupakan sebuah sistem tersendiri yang terdiri dari elemen-elemen yang lebih kecil. Elemen demikian dapat kita sebut sebagai sebuah subsistem. Berdasarkan konsep fenomena dan sistem, kita dapat memberikan definisi lain untuk proses berpikir. Secara sederhana, saya dapat katakan bahwa seseorang disebut berpikir tentang sesuatu jika ia memandang sesuatu itu tidak lagi sebagai fenomena tetapi sebagai sistem dengan kompleksitasnya.

Dengan memandang berpikir sistematis yang berbasis sistem itu sendiri sebagai sebuah sistem berpikir, maka berpikir sistematis mencakup dua cara berpikir besar, yaitu berpikir analitik (analisis) dan berpikir sintetik (sintesis).
-       Secara sederhana, analisis adalah proses berpikir yang berintikan penguraian sebuah sistem menjadi elemen-elemen dan pola interaksi antarelemen lalu mempelajarinya untuk kemudian menghasilkan kesimpulan guna menjawab kebutuhan yang menjadi titik akhir berpikir. Artinya, dalam analisis, sistem yang hendak diurai sudah ada sebelum proses berpikir dimulai, yaitu sistem sudah ada di titik awal. Dalam analisis, setelah menentukan titik akhir, maka kita umumnya bergerak dari titik awal ke titik akhir. Dalam bidang ilmu, sains pada umumnya merupakan proses analisis.
-       Berkebalikan dengan itu, sintesis merupakan proses berpikir yang, melalui proses desain dan pemodelan, lebih dulu menempatkan sebuah sistem imajinatif yang hendak dikonstruksi di titik akhir dan kemudian berusaha membangunnya menurut desain atau model tersebut berdasarkan hasil analisis sistem yang sudah ada atau, jika belum, hasil penciptaan dan inovasi. Tentu saja sistem imajinatif yang hendak diwujudkan ini seharusnya lebih baik daripada sistem-sistem sejenis yang sudah ada dan ia dikonstruksi untuk menjawab kebutuhan yang belum mampu dipenuhi oleh sistem-sistem yang sudah ada itu.

3. Mem-FOKUS-kan upaya berpikir kita kepada elemen-elemen sistem yang memiliki peran dan fungsi paling dominan yang memungkinkan fungsi-fungsi utama sistem tersebut dapat bekerja dengan baik. Prinsip Pareto yang sudah cukup lama dikenal menyatakan bahwa 80% akibat (effects) datang dari 20% sebab (causes). Dengan mengasumsikan bahwa secara umum fenomena atau sistem yang kita kaji juga mengikuti Hukum Pareto dimana hanya sekitar 20% dari seluruh elemen sistem yang berkontribusi kepada 80% fungsi seluruh sistem, maka untuk mencapai pengenalan atau membangun model dari suatu sistem dengan tingkat minimal 80%, maka kita cukup mengkonsentrasikan seluruh upaya berpikir kita kepada 20% dari seluruh elemen sistem yang memang paling penting. Untuk mengetahui manakah elemen yang termasuk 20% ini, kita perlu mengetahui fungsi elemen dan hubungannya dengan fungsi-fungsi utama sistem. Dengan memperhatikan pola hubungan antarelemen sistem, kita akan mampu memilah-milah manakah elemen inti dan elemen pendukung dari sebuah sistem.

4. Mengenal dan mempelajari elemen-elemen dan interaksi antarelemen di dalam sistem yang sedang kita kaji.
empat hamba dan tujuh penasihat setia
Keempat hamba yang dapat membantu kita untuk berpikir sistematis adalah fakta, data, informasi, dan asumsi:
a.       fakta, dapat diartikan sebagai segala fenomena aktual yang terjadi atau nyata tentang sesuatu.
b.       data, dapat dinyatakan sebagai deskripsi kuantitatif atau kualitatif tentang sesuatu yang diperoleh misalnya melalui observasi atau pengukuran. Fakta dapat menjadi data, tetapi data belum tentu merupakan fakta.
c.       informasi, adalah pengetahuan yang kita peroleh tentang sesuatu setelah memproses data yang kita miliki tentang sesuatu itu dan fenomena lainnya. Pemrosesan data untuk mendapatkan informasi memiliki beragam bentuk, seperti membandingkan, memperhatikan tren atau kecenderungan data, dan mengkaji pola statistik dari data.
d.       Asumsi adalah anggapan tentang sesuatu yang seharusnya dikonstruksi berdasarkan fakta atau data dari masa lalu tentang sesuatu itu dan berbagai fenomena lainnya.

Dalam berpikir sistematis, prinsip penting yang harus dipegang sampai saat ini adalah bahwa kita harus berpikir dengan memaksimalkan fakta dan meminimalkan asumsi. Jika kita memperoleh data dari sumber sekunder, maka adalah sangat berbahaya jika kita langsung menerimanya bulat-bulat sebagai fakta. Akan sangat baik mendapatkan fakta langsung dari sumber primer atau dari lapangan, jika memungkinkan. Jika tidak, maka pastikanlah data yang kita peroleh tentang suatu sistem berasal dari sumber-sumber yang memiliki rekam jejak (track record) yang baik sebagai sumber-sumber dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Untuk mendapatkan fakta dan data yang kita butuhkan serta menyarikan informasi ketika berpikir sistematis, di sinilah kita membutuhkan bantuan tujuh penasihat setia yang dimiliki oleh setiap orang. Enam penasihat pertama biasa dikenal dengan 5W+1H yaitu what, where, when, who, why, dan how. Dengan aktif bertanya saat kita berpikir, kita akan menemukan jalan untuk mendapatkan apa yang kita cari. Namun, bagi saya, keenam itu belum cukup. 

Penasihat ketujuh yang menurut saya sangat menolong, khususnya untuk melatih kreatifitas, adalah what if atau why not. Umumnya keempat penasihat pertama, yaitu what, where, when, who, lebih banyak dipakai untuk memperoleh dan mengumpulkan data, sementara ketiga yang terakhir, yaitu why, how, dan what if atau why not lebih sering digunakan saat memproses data untuk memperoleh informasi. Semakin banyak fakta dan semakin sedikit asumsi yang kita miliki, semakin efektif pula proses berpikir sistematis kita.

Dalam berpikir sistematis, baik itu analisis atau sintesis, tentunya paling baik dan produktif jika pada akhirnya kita tidak hanya sampai kepada tataran ide sebagai hasil berpikir, tetapi juga kepada aksi, implementasi dan realisasi, jika memungkinkan. Untuk menolong kita memformulasikan bentuk aksi yang dapat kita lakukan sebagai hasil berpikir, saya menemukan bahwa konsep lingkaran kepedulian (circle of concern) dan lingkaran pengaruh (circle of influence) dari Stephen Covey. Dengan bahasa sederhana, lingkaran kepedulian adalah lingkaran yang melingkupi segala sesuatu yang tentangnya kita peduli. Analogi dengan itu, lingkaran pengaruh adalah lingkaran yang segala sesuatu di dalamnya dapat kita pengaruhi secara langsung.

Kita harus berupaya agar supaya lingkaran pengaruh semakin hari semakin meningkat namun tidak mengecilkan lingkaran kepedulian kita. Saat anda mulai bermahasiswa, lingkaran kepedulian anda lebih besar dibanding lingkaran pengaruh. Tugas kita mengembangkan lingkaran pengaruh kita. 

Setelah kita mengenal seperti apa konfigurasi yang kita miliki saat kita berpikir, maka jika kita ingin mempengaruhi sistem yang ada atau, dengan kata lain, mensintesis sebuah sistem yang lebih baik, tugas kita tinggal mengategorikan manakah elemen-elemen sistem tersebut yang masuk dalam lingkaran pengaruh atau lingkaran kepedulian kita. Lalu jika akhirnya kita ingin menetapkan aksi untuk dikerjakan sebagai hasil proses berpikir, maka pekerjaan kita jadi jauh lebih mudah yaitu mari fokus kepada hal-hal yang masuk di lingkaran pengaruh kita saja.

(***)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar